Senin, 16 September 2013
Trah Kyai Ageng Muhammad Besari
Nabi saw, bersabda: “Ilmu itu membisik, jika disertai amal, ilmu akan meresponnya, tetapi jika tidak ia akan meninggalkannya.”
Dalam hadits ini menunjukkan bahwa barokah ilmu bisa sirna, tinggal argumen-argumennya belaka, sehingga anda menjadi ilmuwan, Ulama dan cendekiawan yang yang terfitnah oleh ilmu anda sendiri, yang tersisa hanya pohon pengetahuan, sedangkan buahnya sirna dari anda.
Mohonlah kepada Allah Azza wa-Jalla agar Dia memberikan rizeki kondisi ruhani dan maqom di hadapanNya. Bila Allah azza wa-Jalla memberikan rizeki maqom dan haal padamu, mohonlah agar Allah swt merahasiakan semua itu, dan hendaknya anda tidak suka bila rahasia itu ditampakkan.
Bila anda suka ditampakkan kondisi ruhani anda yang ada di hadapanNya, itulah yang menyebabkan kehancuran.
Hati-hati dan waspada terhadap rasa kagum pada prestasi ruhani dan amal baik ada. Karena orang yang kagum pada amal dan ruhaninya, ia telah terpedaya, terkena amarah dari Allah Azza wa-Jalla.
Hati-hati, anda jangan banyak bicara dengan sesama, dan merasa senang ketika ucapan anda diterima. Itu justru membuat diri anda terkena bahaya dan tidak ada gunanya. Janganlah anda bicara dengan suatu kalimat sampai kalimat itu benar-benar mendapatkan restu dari Allah azza wa-Jalla.
Bagaimana anda mengundang banyak orang ke rumah anda, sedangkan anda tidak menyiapkan hidangan bagi mereka? Persoalan ini butuh pondasi, kemudian bangunan.
Cangkuli hatimu hingga tumbuh subur air hikmah lalu bangunlah dengan ikhlas, mujahadat, dan amal sholeh hingga istanamu menjulang. Baru anda ajak orang lain.
Ya Allah, hidupkan jasad amal kami dengan roh keikhlasan dariMu.
Namun bagaimana bersembunyi dari makhluk bisa memberi manfaat padamu, sedangkan makhluk terus menerus ada di hatimu? Sungguh tak ada kehormatan dan tak ada artinya khalwatmu. Bila anda khalwat sedangkan makhluk bercokol di hatimu, sesungguhnya anda dalam kesendirian tanpa hadir di hadapan Allah Azza wa-Jalla.
Bahagia mesra itu bersama Allah azza wa-Jalla, namun nafsu, syetan dan hawa kesenangan terus menyertaimu. Bila hatimu merasa senang bahagia bersama Allah Azza wa-Jalla, pasti anda sepi dari makhluk, walaupun anda bersama anak isteri dan keluarga.
Bila kebahagiaan indah benar-benar teguh mandiri di hatimu bersama Allah Azza wa-Jalla maka dinding wujudmu pun roboh, mata-hatimu akan melihat, lalu yang anda lihat adalah anugerah dan tindakanNya. Lalu anda hanya ridho kepadaNya, bukan ridho pada lainNya. Maka disitulah syarat Ridho, berselaras dan ubudiyah benar-benar didapatkan.
Anda jangan dusta. Anda mengaku ridho. Tapi hati anda bisa dirubah oleh sayuran, oleh suapan makananan, kata, dan gengsi.
Anda jangan dusta, betapa nyaringnya dustamu, sedangkan amal dan kejujuranmu sirna, bahkan tak seorang pun makhluk yang membenarkan anda. Allah swt, mewahyukan kepada hati mereka dengan Kalimat-kalimat yang istemewa, dimana mereka mengenal kebajikan dan mereka berserasi dengan Kalimat itu.
Mereka yang hatinya tercerahkan senantiasa mengikuti jejak Rasul dalam ucapan dan tindakannya. Bila Rasul saw, mendapatkan wahyu secara dzohir, namun mereka mendapatkannya melalui hati mereka (Ilham) karena mereka adalah para pewaris Nabi, pengikut-pengikutnya dalam seluruh apa yang diperintahkan Allah swt pada mereka.
Bila anda ingin mengikuti jejak secara benar, maka perbanyaklah mengingat mati, karena mengingat mati itu akan berarti bagi dirimu, nafsumu, dan menjauhkan syetanmu, menepiskan duniawimu. Siapa yang tidak meraih nasehat dari maut, ia tidak akan meraih jalan nasehat. Nabi saw, bersabda:
“Cukuplah maut itu sebagai penasehat…”
Bagianmu akan tiba, apakah anda sedang zuhud sekalipun dan anda justru meraih kemuliaan. Tetapi jika bagianmu kau ambil dengan ambisi nafsu, anda meraihnya tetapi tidak meraih kemuliaan.
Orang munafik itu malu kepada Allah Azza wa-Jalla ketika bersama makhluk, dan ia merasa sinis ketika tidak berada di tengah publik itu.
Ingat! Jika imanmu dan akidahmu benar, Dia senantiasa memandangmu, Maha dekat dan Maha Mewaspadaimu, maka sungguh anda akan sangat malu. Aku bicara benar padamu, dan aku tidak kawatir pada kalian, juga tidak berharap dari kalian.
Bagiku, kalian tak lebih dari serpihan debu atau sebiji sawi di muka bumi, karena aku hanya melihat yang memberi bahaya dan manfaat itu tetap dari Allah azza wa-Jalla, bukan dari kalian. Budak dan tuan bagiku sama.
Beranikan untuk mengingkari dirimu dan yang lain melalui jalan syara’, bukan jalan nafsumu, kesenangan atau nalurimu. Bila syariat diam, maka berselaraslah dengan diamnya. Bila syariat bicara, maka serasilah dengan ungkapannya.
Anak-anak sekalian… Jangan mengingkari orang lain dengan hawa nafsumu, tetapi lawanlah dengan imanmu. Iman itulah yang kontra terghadap kemungkaran, sedangkan yaqin, itulah yang menghapus kemungkaran itu. Allah Azza wa-Jalla Yang Menolong dan membelamu. Allah azza wa-Jalla berfirman:
“Bila Allah menolong kalian, tak ada yang mengalahkan kalian” (Ali Imron 160). “Bila kalian memohon pertolongan Allah, Dialah yang menolong kamu dan mengokohkan pijakanmu.” (Muhammad : 7)
Bila anda mengingkari kemungkaran sebagai wujud kecemburuan bagi Allah Azza wa-Jalla, Dia akan menolongmu untuk menghapus kemungkaran itu, menolong kalian mengalahkan ahli mungkar dan menghinakannya.
Tetapi jika anda nahi mungkar dengan emosi nafsumu, hawa nafsu dan syetanmu, watak hinamu, maka Allah Azza wa-Jalla tidak akan menolongmu mengalahkan ahli mungkar.
Imanlah yang kontra pada kemungkaran. Setiap tindakan nahi mungkar yang tidak didasari iman, maka bukanlah sebagai nahi mungkar. Seharusnya motivasinya hanyalah Lillahi Ta’ala. Bukan kepentingan diri dan nafsumu, atau kepentingan makhluk. Benar-benar untuk kepentingan Allah azza wa-Jalla, bukan untuk kepntingan diri anda.
Tinggalkan stressmu dan ikhlaslah dalam amal-amalmu.
Maut mengintaimu, sudah seharusnya anda berkontemplasi.
Karena itu tinggalkan ambisimu yang telah membuatmu terhina. Apa yang menjadi milikmu bakal tiba, dan apa yang menjadi milik orang lain tidak bakal anda raih. Karena itu sibukkan dirimu bersama Allah azza wa-Jalla. Jangan berambisi mencari apa yang menjadi milikmu dan yang bukan milikmu. Allah swt telah berfirman:
“Janganlah engkau pandangkan kedua matamu pada apa yang Kami hiaskan pada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga-bunga kehidupan duniawi , di dalamnya sebagai cobaan dari kami untuk mereka….” (Thaaha: 131)
Senin, 03 Juni 2013
Membuang khodam..
Pertama harus ada nawaitu membuang, dan tidak lagi mengingat amaliyah tersebut. Jangan karena sayang atau eman. Itu memicu nafsu anda untuk terus memelihara khodam tersebut. Karena khadam itu bisa jadi hijab antara dirimu dengan Allah swt.
Coba anda menyelam di pantai (laut sebagai asal khodam) dengan seluruh tubuh anda. Sebelumnya membaca Alfatihah 41 x, lalu menyelam. Menyelam pertama baca Istighfar sebanyak-banyaknya, sekuatnya. Lalu ambil nafas. Menyelam kedua, baca Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, sebanyak-banyaknya, sepetri yang pertama. Lakukan terus secara bergantian. Misalnya menyelam ketiga Istighfar, keempat Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, kelima istighfar lagi, keenam Yaa Hayyu Ya Qoyyum, hingga berulangkali. Lalu setiap habis sholat fardhu anda baca Istighfar 100 x dan Yaa Hayyu Yaa Qoyyum 100 x.
Semua ilmu hikmah yang anda miliki, ditinggalkan saja. Cari Mursyid yang Kamil Mukammil.
Senin, 24 Desember 2012
Pohon Indah...
Suatu ketika, seorang guru bertanya pada Sang Maha Guru, “Wahai Maha Guru, aku ingin menjadi guru yang sejati bagi anakku, juga bagi murid-muridku. Apakah Maha Guru memiliki pesan untukku, agar setiap kali mengajar aku akan selalu teringat pesan bijaksanamu?”
Sang Maha Guru terdiam sejenak. Lalu sambil tersenyum arif ia bertanya, “Apakah kamu pernah melihat pepohonan di sekitarmu?”
“Ya, tentu saja,” kata si guru.
Sang Maha Guru bertanya kembali, “Apakah kamu benar-benar melihat dan memperhatikan apa yang mereka lakukan?”
Si guru menggaruk-garuk kepalanya, “Setahuku mereka diam saja dan tidak melakukan apa-apa.”
Sang Maha Guru tersenyum lagi, lalu mulailah ia berpesan :
“Jadilah seperti pohon. Perhatikanlah, ia diam tak banyak bicara hingga kamu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Padahal ia selalu memberimu udara untuk dihisap. Lihatlah bagaimana ia memberi udara pada semua orang tanpa memandang apakah kamu miskin atau kaya. Atau apakah kamu lahir dari kelompok etnik tertentu. Ia memberi udara bagi semua orang tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa. Apakah kamu bersedia membagi ilmumu untuk semua orang tanpa pilih kasih?”
“Jadilah seperti pohon. Ia tidak banyak berbicara tapi terus bertumbuh setiap hari. Jika sudah tidak bertumbuh maka ia akan mati. Apakah dirimu merasa terus bertumbuh?”
“Jadi seperti pohon. Apabila sudah besar, ia akan menaungi siapa saja yang berada dibawahnya, tak peduli itu manusia atau hewan. Apakah kamu merasa dirimu sudah semakin besar dan menaungi apa saja yang berada dibawahmu?”
“Jadilah seperti pohon yang selalu menyejukkan, memperindah dan mempercantik tempat-tempat gersang. Apakah kamu merasa kehadiranmu telah membuat hati-hati yang gersang menjadi sejuk dan indah kembali?”
“Jadilah seperti pohon. Satu-satu kehidupan yang tumbuh ke atas dan berhasil melawan kuatnya gravitasi Bumi. Apakah kamu merasa dirimu telah berhasil melawan kuatnya godaan dan tantangan akan terus bertumbuh menjadi manusia dan guru yang lebih baik dari hari ke hari?”
“Jadilah seperti pohon yang menyuburkan tanah di sekitarnya dan menyimpan air di bawahnya untuk kehidupan semua makhluk hidup lainnya. Apakah kamu sudah menyuburkan lingkungan sekitarmu?”
“Jadilah seperti pohon, Seandainya sudah mati pun tubuhnya masih berguna bagi kesuburan tanah atau menjadi bahan baku tempat tinggal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.”
Minggu, 23 Desember 2012
Rindu Rasul Itu Indah . . .
Suatu saat, ada orang yang ingin sekali bertemu dengan Nabi saw di mimpinya, tetapi keinginannya itu tak pernah terkabul; meskipun ia telah berusaha amat kuat dan keras. Ia meminta nasihat kepada seorang sufi. Sufi itu menjawab, “Anakku, pada Jumat malam nanti, banyak-banyaklah kau makan ikan asin, tunaikan salatmu, dan langsunglah engkau pergi tidur tanpa minum air setetes pun. Keinginanmuakan terpenuhi”.
Orang itu pun melaksanakan anjuran sang sufi. Setelah itu, ia langsung tidur. Sepanjang malam ia bermimpi terus menerus minum air dari puluhan mata air. Ketika pagi menjelang, ia bergegas menemui sufi itu, “Wahai Maulana, aku tak melihat Nabi dalam mimpiku. Aku begitu kehausan sehingga yang aku impikan hanyalah minum air dari puluhan mata air. Sekarang pun aku masih tersiksa dengan rasa dahaga”.
Sang sufi berkata padanya, “Makan ikan asin telah memberimu dahaga yang begitu menyiksa sehingga sepanjang malam engkau hanya bermimpi tentang air minum. Sekarang kau harus merasakan dahaga yang sama akan Rasul-Nya, barulah engkau boleh memeluk anugerah terindahnya!”
**..kalau mau tidur BBM-an, mimpinya mungkin bakul BB yang lagi nawari BB baru, karena yang lama sudah sering ngadat, sering keluar jam pasir!! **
Sabtu, 17 Maret 2012
Arahhati yang indah . . .
29.45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
73.20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
73.4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
73.20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
73.4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
Jumat, 30 September 2011
Oalahh.. rokokk..rokok..
Kyai Said Aqil: Fatwa Haram Merokok dari Ulama Wahabi
RABU, 27 AGUSTUS 2008 15:48
Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj menanggapi rencana MUI berfatwa haram merokok menyatakan bahwa tidak ada satu pun ulama di dunia, termasuk ulama Syiah, yang memfatwakan rokok dengan hukum haram. Hanya para ulama Wahabi yang memberikan hukum terhadap hal itu.
“Paling-paling mereka (ulama Wahabi) menghukumi makruh. Itu sudah paling keras,” tandas Kang Said, seperti dikutip NU online saat belaiu berada di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.
Dampak buruk yang ditimbulkan jika rokok diharamkan adalah dari sisi ekonomi. Fatwa tersebut jelas akan “membunuh” para buruh pabrik rokok, juga para petani tembakau, yang kebanyakan mereka juga kalangan nahdliyin (warga NU).
Kang Said menduga, MUI tampak tak memperhatikan sisi tersebut. “Dampak yang begitu besar itu kayaknya tidak dipikirkan oleh MUI,” tandasnya.
Ia berkesimpulan, rencana MUI yang akan mengharamkan rokok hanyalah bentuk ‘kelatahan’. “Saya melihat MUI sekarang sudah latah. Kayak enggak ada masalah yang lebih penting saja,” pungkasnya. (Kurt/okz/nu)
RABU, 27 AGUSTUS 2008 15:48
Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj menanggapi rencana MUI berfatwa haram merokok menyatakan bahwa tidak ada satu pun ulama di dunia, termasuk ulama Syiah, yang memfatwakan rokok dengan hukum haram. Hanya para ulama Wahabi yang memberikan hukum terhadap hal itu.
“Paling-paling mereka (ulama Wahabi) menghukumi makruh. Itu sudah paling keras,” tandas Kang Said, seperti dikutip NU online saat belaiu berada di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.
Dampak buruk yang ditimbulkan jika rokok diharamkan adalah dari sisi ekonomi. Fatwa tersebut jelas akan “membunuh” para buruh pabrik rokok, juga para petani tembakau, yang kebanyakan mereka juga kalangan nahdliyin (warga NU).
Kang Said menduga, MUI tampak tak memperhatikan sisi tersebut. “Dampak yang begitu besar itu kayaknya tidak dipikirkan oleh MUI,” tandasnya.
Ia berkesimpulan, rencana MUI yang akan mengharamkan rokok hanyalah bentuk ‘kelatahan’. “Saya melihat MUI sekarang sudah latah. Kayak enggak ada masalah yang lebih penting saja,” pungkasnya. (Kurt/okz/nu)
Jumat, 08 April 2011
MEMBUKA TIRAI HIJAB, BETAPA INDAH...
Saudaraku, terbukanya hijab (sekat pembatas) antara kita dengan Allah adalah sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup. Ketika hijab telah terbuka, semua yang kita alami hanyalah nikmat belaka. Betapa tidak, dalam setiap kondisi, kita akan merasakan kehadiran Allah Azza wa Jalla. Lebih jauh lagi, kita akan “melihat” Allah dalam setiap kejadian. Inilah keindahan tak bertepi.
Pantas bila Rasulullah SAW mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Mukmin, orang yang telah terbuka hijabnya. Sebab semua yang dialaminya selalu berbuah kebaikan. Diberi kenikmatan ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Demikian pula ketika ia diberi ujian, ia bersabar, dan sabar adalah kebaikan baginya. Dengan sabar ia pun bisa lebih dekat lagi dengan Allah.
Orang yang telah makrifat dan terbuka hijabnya, hatinya dipenuhi keyakinan bahwa Allah akan selalu menolong. Lihatlah bagaimana ketika Da’tsur menodongkan pedang ke leher Rasulullah SAW. Wahai Muhammad, siapakah yang akan menolongmu sekarang? Dengan sangat yakin beliau menjawab, Allah! Seketika itu pula Da’tsur bergetar. Pedangnya langsung terjatuh. Rasulullah, dengan izin Allah, mampu melakukan hal tersebut, karena beliau tidak ada lagi hijab dengan Allah. Keyakinannya mendatangkan pertolongan Allah. Kata-katanya powerfull dan sangat berbobot.
Ciri khas orang yang telah makrifat adalah lebih fokus pada dalang dari pada wayang. Hatinya akan lebih tertambat pada Allah dari pada kepada makhluk. Boleh jadi penglihatannya sama dengan orang lain. Namun ada nilai plus dari penglihatannya tersebut. Melihat uang misalnya. Orang yang hatinya terhijab dari Allah, melihat uang hanya dari bendanya saja, bahkan bagaimana dengan uang tersebut syahwatnya terpuaskan. Tidak demikian dengan orang yang ma’rifat, hadirnya uang identik dengan hadir syukur. Hadirnya uang identik dengan keinginan menggebu untuk semakin dekat dengan Allah. Tak heran, dengan ma’rifat, puncak-puncak kemuliaan akhlak akan menjadi bagian dari diri.
Orang-orang makrifat itu jumlahnya sangat sedikit. Mereka bisa datang dari kalangan mana saja, tidak harus dari kalangan ulama. Bisa seorang tukang sapu, pegawai rendahan, pedagang, pejabat, dsb. Cirinya sangat kentara, mereka sangat Allah oriented. Akibatnya, hidup mereka sangat terjaga. Dipuji dicaci, punya uang tidak punya uang sama saja bagi mereka. Ia tidak mempersoalkan kaya atau miskin, cantik atau tidak, sebab ia yakin bahwa semua ada dalam kekuasaan Allah. Semua mengandung kebaikan yang akan mendekatkannya kepada Allah. Alangkah indahnya bila kita termasuk salah seorang dari mereka!
Bila terbukanya hijab menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup, maka sebaliknya, tertutupnya hijab dan butanya hati dari mengenal Allah menjadi sumber kesengsaraan dan nestafa dalam hidup.
Saudaraku, kecemasan, kedongkolan, amarah, stres, depresi serta ketidaktenangan akan lahir bila kita lebih fokus pada makhluk dibanding kepada Allah Al Khalik. Ibnu Atha’ilah mengungkapkan, Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hati dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab (tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat), tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam tiap sesuatu, pastilah hatinya tidak lagi merasa risau.
Bagaimana agar kita bisa makrifat? Bagaimana kita bisa menyingkap hijab diri? Tiap orang memiliki hijab berbeda-beda. Ada yang terhijab karena harta. Cirinya ia sangat takut kehilangan harta, hati dan pikirannya hanya disibukkan harta. Latihan menyingkapnya adalah dengan banyak memberi, usahakan memberi apa yang disenangi.
Ada pula yang terhijab oleh kedudukan. Cirinya bangga terhadap kedudukan yang disandang dan sangat takut kehilangan. Maka cara membukanya adalah menanamkan keyakinan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Imam Al Ghazali mencontohkan. Saat sedang berada di puncak karier, tidak segan-segan ia mengambil sampah, membawakan barang-barang di pasar, dan sebagainya. Sesuatu yang dianggap orang pekerjaan hina.
Ada pula yang hijabnya kecintaan yang berlebihan terhadap pasangan hidup, anak, keluarga, ilmu, atau pun lawan jenis yang belum halal. Bahkan ada pula yang hijabnya berlapis-lapis. Bila demikian, maka usaha untuk membuka hijabnya harus luar biasa beratnya. Intinya, hijab dunia latihannya dengan zuhud, ibadah dan doa. Berlatihlah untuk banyak mengingat Allah, di mana pun dan kapan pun. Pahami keutamaannya. Melihat apa pun kaitkanlah selalu dengan Allah, jangan hanya kepada makhluk. Wallaahu a’lam
Pantas bila Rasulullah SAW mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Mukmin, orang yang telah terbuka hijabnya. Sebab semua yang dialaminya selalu berbuah kebaikan. Diberi kenikmatan ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Demikian pula ketika ia diberi ujian, ia bersabar, dan sabar adalah kebaikan baginya. Dengan sabar ia pun bisa lebih dekat lagi dengan Allah.
Orang yang telah makrifat dan terbuka hijabnya, hatinya dipenuhi keyakinan bahwa Allah akan selalu menolong. Lihatlah bagaimana ketika Da’tsur menodongkan pedang ke leher Rasulullah SAW. Wahai Muhammad, siapakah yang akan menolongmu sekarang? Dengan sangat yakin beliau menjawab, Allah! Seketika itu pula Da’tsur bergetar. Pedangnya langsung terjatuh. Rasulullah, dengan izin Allah, mampu melakukan hal tersebut, karena beliau tidak ada lagi hijab dengan Allah. Keyakinannya mendatangkan pertolongan Allah. Kata-katanya powerfull dan sangat berbobot.
Ciri khas orang yang telah makrifat adalah lebih fokus pada dalang dari pada wayang. Hatinya akan lebih tertambat pada Allah dari pada kepada makhluk. Boleh jadi penglihatannya sama dengan orang lain. Namun ada nilai plus dari penglihatannya tersebut. Melihat uang misalnya. Orang yang hatinya terhijab dari Allah, melihat uang hanya dari bendanya saja, bahkan bagaimana dengan uang tersebut syahwatnya terpuaskan. Tidak demikian dengan orang yang ma’rifat, hadirnya uang identik dengan hadir syukur. Hadirnya uang identik dengan keinginan menggebu untuk semakin dekat dengan Allah. Tak heran, dengan ma’rifat, puncak-puncak kemuliaan akhlak akan menjadi bagian dari diri.
Orang-orang makrifat itu jumlahnya sangat sedikit. Mereka bisa datang dari kalangan mana saja, tidak harus dari kalangan ulama. Bisa seorang tukang sapu, pegawai rendahan, pedagang, pejabat, dsb. Cirinya sangat kentara, mereka sangat Allah oriented. Akibatnya, hidup mereka sangat terjaga. Dipuji dicaci, punya uang tidak punya uang sama saja bagi mereka. Ia tidak mempersoalkan kaya atau miskin, cantik atau tidak, sebab ia yakin bahwa semua ada dalam kekuasaan Allah. Semua mengandung kebaikan yang akan mendekatkannya kepada Allah. Alangkah indahnya bila kita termasuk salah seorang dari mereka!
Bila terbukanya hijab menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup, maka sebaliknya, tertutupnya hijab dan butanya hati dari mengenal Allah menjadi sumber kesengsaraan dan nestafa dalam hidup.
Saudaraku, kecemasan, kedongkolan, amarah, stres, depresi serta ketidaktenangan akan lahir bila kita lebih fokus pada makhluk dibanding kepada Allah Al Khalik. Ibnu Atha’ilah mengungkapkan, Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hati dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab (tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat), tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam tiap sesuatu, pastilah hatinya tidak lagi merasa risau.
Bagaimana agar kita bisa makrifat? Bagaimana kita bisa menyingkap hijab diri? Tiap orang memiliki hijab berbeda-beda. Ada yang terhijab karena harta. Cirinya ia sangat takut kehilangan harta, hati dan pikirannya hanya disibukkan harta. Latihan menyingkapnya adalah dengan banyak memberi, usahakan memberi apa yang disenangi.
Ada pula yang terhijab oleh kedudukan. Cirinya bangga terhadap kedudukan yang disandang dan sangat takut kehilangan. Maka cara membukanya adalah menanamkan keyakinan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Imam Al Ghazali mencontohkan. Saat sedang berada di puncak karier, tidak segan-segan ia mengambil sampah, membawakan barang-barang di pasar, dan sebagainya. Sesuatu yang dianggap orang pekerjaan hina.
Ada pula yang hijabnya kecintaan yang berlebihan terhadap pasangan hidup, anak, keluarga, ilmu, atau pun lawan jenis yang belum halal. Bahkan ada pula yang hijabnya berlapis-lapis. Bila demikian, maka usaha untuk membuka hijabnya harus luar biasa beratnya. Intinya, hijab dunia latihannya dengan zuhud, ibadah dan doa. Berlatihlah untuk banyak mengingat Allah, di mana pun dan kapan pun. Pahami keutamaannya. Melihat apa pun kaitkanlah selalu dengan Allah, jangan hanya kepada makhluk. Wallaahu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)
